[Review] Finally You by Dian Mariani

Beberapa waktu lalu (udah cukup lama sih), aku nyasar ke sebuah blog yang ternyata lagi mengadakan giveaway. Entah kenapa, sekarang aku suka sama sesuatu yang berbau giveaway. Sebenarnya karena liat hadiahnya sih. Kalau novel, aku semangat. Hihihi^^ tapi jauh selain itu, karena dengan adanya giveaway, aku bisa melatih nulis sekaligus pemikiran aku tentang suatu hal yang nggak pernah aku bayangkan sebelumnya.


Contoh. Kalau bikin tulisan sendiri, otomatis temanya sesuai sama yang aku pikirkan sebelumnya. Tapi kalau giveaway, temanya ditentukan sama yang ngasih. Bisa aja temanya “nggak aku banget”. Tapi, dengan ikutan itu, pikiranku jadi terlatih buat ke sana. Karena menurutku, penulis yang keren itu adalah penulis multitalent. Segala genre dia bisa.

Balik lagi ke cerita. Waktu itu pertanyaannya tentang masa lalu. Intinya sih apa kamu bakal terima dia kalau dia punya masa lalu buruk? Alasannya?  Nah, menurutmu gimana?

Aku baca-baca jawaban sebelumnya dulu. Aku amati jawaban mereka dengan detail. Hampir semua jawabannya sejenis. Nggak tau kenapa tiba-tiba aku punya pemikiran lain. Oh iya, ini salah satu tips buat memenangkan giveaway. Bukan cuma giveaway sih, buat yang lain juga mungkin bisa diterapkan. Cari pemikiran beda, atau, pemikiran yang sama dengan sudut pandang berbeda. Yang fresh, agak nyeleneh (tapi artian baik ya). Itu pun yang aku terapkan waktu ikutan giveaway Mbak Reni. Akhirnya alhamdulillah terpilih dari puluhan yang ikut hehe.

Oke, berhubung setelah novelnya sampai, aku dikasih surat juga dari penerbitnya (mereka akan senang kalau dapat feedback berupa review atau ulasan), karena aku juga senang membuat orang senang, maka dengan senang hati aku akan buat review-nya di sini. Meskipun telat, nggak apa ya^^

Here we go!

Penulis: Dian Mariani
Editor: Herlina P. Dewi
Proof Reader: Weka Swasti
Desain Cover: Teguh Santosa
Layout isi: Deeje
Penerbit: Stiletto Book
Cetakan I: Juni, 2014
Tebal: 275 halaman









Blurb
Luisa dan Raka, dipersatukan oleh luka.

Luisa yang patah hati setelah ditinggal Hans, memilih menghabiskan waktunya di kantor sampai malam. Bekerja tak kenal lelah. Siapa sangka, ternyata bos di kantornya juga baru putus cinta. Mereka sama-sama mencari pelarian. Mengisi waktu-waktu lengang selepas jam lembur dengan menyusuri jalan-jalan padat Ibu Kota. Membagi luka dan kecewa.

Antara bertahan pada kenangan, atau membiarkan waktu yang menyembuhkan. Baik Luisa ataupun Raka membiarkan hubungan mereka berjalan apa adanya. Hubungan yang dewasa tanpa ungkapan cinta. Mungkin rasa aman dan nyaman bersama kenangan, membuat Luisa dan Raka malas menyesap rasa baru dalam hubungan mereka.

Namun, bagaimana jika seiring berjalannya waktu, Raka mulai benar-benar jatuh cinta ketika Luisa justru berpikir untuk kembali pada Hans? Ternyata bukan tentang waktu. Bukan juga tentang masa lalu. ini tentang menemukan orang yang paling tepat untuk hidupmu.

Relationship last long not because they’re destined to last long. Relationship last long because two brave people made a choice... to keep it, fight for it, and work for it. (nn)

Kedua tokoh utama dipertemukan di bagian prolog. Berawal ketika Raka hendak memanggil Cynthia dengan meneleponnya. Tapi dia salah menekan nomor extention sehingga tersambung ke nomor Luisa. Gadis itu pun tidak sadar bahwa bosnya memanggil “Cyn”, bukan “Sa”. Tapi karena Luisa terlanjur menyetujui untuk segera datang ke ruangan Raka, dia tidak lagi memedulikannya. Setibanya di ruangan Raka, pria itu sedikit bingung karena yang datang adalah Luisa, bukan Cynthia. Tapi berhubung Luisa ada di Divisi Human Resources, tepatnya lulusan Psikologi, Raka segera meminta Luisa untuk menganalisis dan membandingkan dua buah tulisan tangan.

Kisah mereka dilanjut dengan pertemuan tidak sengaja di sebuah mal. Luisa baru saja melihat Hans jalan dengan sahabatnya sendiri, Gina, saling berangkulan. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara bariton yang nyaris mirip dengan Hans. Ternyata pria itu adalah Raka. Raka sadar dari gerak-gerik Luisa yang memerhatikan pasangan itu—Hans dengan Gina, raut wajahnya begitu sedih. Dia mencoba menghibur—setidaknya menenangkan. Tanpa disangka, Luisa mampu tersenyum bahkan tertawa dengan candaan ringan Raka.

Entah kenapa aku jadi suka couple itu. Iya, Raka dan Luisa. Mbak Dian membuktikan sama aku bahwa hubungan dua orang antara perempuan dengan laki-laki itu nggak hanya tentang makan romantis di restoran mewah, pegangan tangan, pelukan. Tapi dengan perlakuan kecil-kecilan aja udah bisa bikin romantis. Contohnya saat adegan mereka udah cukup dekat. Mereka selalu dinner bareng setelah selesai kerja. FYI, Luisa kerja di kantor Raka karena dia keluar dari kantor sebelumnya, tempat di mana Hans bekerja. Semacam pelarian gitu. Raka dan Luisa lebih sering dinner di tempat makan pinggir jalan. Luisa dan Raka tau beberapa tempat makan pinggir jalan yang rasanya nyaris menyamai restoran mewah.

Intinya, untuk bisa bahagia itu nggak harus merogoh kocek banyak. Justru dari hal-hal sederhana, selama bersama, bahagia itu akan datang dengan sendirinya.

Konfliknya muncul tentu aja berhubungan dengan masa lalu kedua orang tersebut. Penasaran kan? Jadinya balikan atau malah mereka jadian? Yah, mending beli aja bukunya. Bisa cek ke situsnya di www.StilettoBook.com deh :)

Dari segi ide dan tema, aku suka banget. Memang, sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu itu selalu jadi masalah. Benar nggak? Ya kamu harus terima bahwa sebelum kamu, dia pernah mencintai orang lain dengan setulus hati. Tapi kamu juga harus menghargai usahanya, bagaimana dia berusaha untuk bisa mencintai kamu dan melupakan masa lalunya. Bagaimana dia berusaha menjadikan kamu orang terakhir dan satu-satunya. Temanya mungkin udah pasaran, tapi Mbak Dian mengemasnya dengan apik. Dengan rapi dan racikan kosa kata yang pas. Sehingga nggak bikin pembaca bosan. Ingin tahu kelanjutannya terus dan terus.

Dari segi karakter, two thumbs up! Aaakkkk aku suka karakternya Raka! Maksudnya saat Raka lagi sama Luisa. Entah kenapa ya... udah dia bos, punya apartemen sendiri, mapan, care, perhatian, kadang humoris, tapi di satu sisi bisa romantis. Memang sih dia kurang ekspresif, nggak bisa bermain dengan kata-kata, nggak bisa ngegombal. Of course, he’s bad in words. But, dia cowok idaman banget deh. Tapi sosoknya berubah banget saat dia lagi sama mantannya.

Untuk karakter Luisa juga aku suka! Dia sering galau gitu sama kayak aku sih hehe. Tapi sifatnya bisa berubah saat lagi sama Raka. Dia merasa kalau Raka seakan bisa mengangkat beban dan kesedihannya. Luisa dan Raka itu bisa saling mengisi. Saat Luisa terlihat sedikit childish, Raka berusaha bersikap dewasa. Tapi saat Raka bersikap cuek pada dirinya sendiri, Luisa siap mengomeli dan memerhatikan Raka—sedikit terlihat berlebihan, tapi mereka lucu.

Tiap penulis pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Menurutku, Mbak Dian ini lebih banyak bermain karakter dan tema cerita karena kalau dari segi setting agak kurang. Ya maksudku nggak mendeskripsikan detail suasana terlalu jelas. Kebayang sih, tapi ya mungkin nggak kebayang sampai detail-detailnya. Selain itu dari segi dialog udah enak, tapi gambaran saat si tokoh ngomong masih kurang jelas. Itu masuk setting juga ya :| ya menurutku itu aja sih kekurangannya. Oh iya, satu lagi. Kurang banyak! Cerita Raka Luisa-nya kurang panjang. Aku masih mau baca kisah mereka dong Mbak :(

Apa lagi ya... kayaknya udah segitu aja deh. Ini bukan review yang elegan sih. Ini review ala Dwi. Aku nggak bisa bikin review yang formal gitu. Aku lebih nyaman bikin review pakai bahasa yang nggak baku gini. Yang penting kan intinya tentang isi, kelebihan dan kekurangan novel ini.

Ya udah begitulah Mbak Dian, review tentang novel Finally You-nya. Buat yang mau beli, beli aja! Kayaknya yang perempuan bakal jatuh hati juga sama sosok fiksi Raka ini. Hihihi... buat yang laki-laki juga, beli aja. Siapa tau kalian bisa curi-curi cara buat bikin pasangan merasa lebih istimewa. *bukan kode*. Sampai ketemu di review yang lain ya. Bye.

“Lelah buat kamu nggak pernah percuma.” –Raka, Finally You.


With love,

You Might Also Like

28 komentar

  1. Makasih ya udah direview, entar di novel selanjutnya akan lebih diperbaiki. Juga makasih di akhir postingan udah bantu promosiin. Ohiya, jangan lupa tepuk tangan buat aku ya.. .-.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hueekk apaan deh ini bocah-_-
      Eh kamu ke mana aja sih? Jarang nongol lagi. Oh iya sibuk kuliah nyebrang pulau ya? Cieee

      Delete
    2. ih, hudin narsisnya nggak ketolongan -_- hahaha

      nilam kalau terdampar di postingan review macam gini suka kepingin punya kak, tapi keuangan nggak..... *nit nit nit laptop mati tbt*

      Delete
    3. Apa Lam? Hudin? Huahahaha

      Ah, hmm, ya, aku juga ngerti kok Lam. Kita senasib :(

      Delete
  2. Gua mau ikutan jawab yang pertanyaan itu boleh ya Dwi? Kalau menurut gua sih, jangan pernah melihat masa lalu seseorang. Lihatlah masa kini, percaya dulu keadaan masa kininya. Walaupun ada kemungkinan dia untuk melakukan hal yang sama. Tapi, nggak ada salahnya kan buat percaya dengan dia, diiringi dengan waspada pastinya :)

    Dwi, Yang bahasa Inggris itu nggak ngerti :3 *sok nggak ngerti*

    Bener banget tuh quote "Bahagia itu dimulai dari yang sederhana." Untuk merasa bahagia, kita perlu melakukan hal yang berbeda. Dengan perlakuan yang berbeda, jelas orang yang kita beri perlakuan tersebut akan merasa spesial. Nggak perlu merogoh kocek banyak. Kalau masih perlu merogoh kocek, artinya dia matre :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya intinya kan masa lalu yang buruk masih bisa diubah.

      Haha nggak matre juga sih. Sekali-kali boleh aja kalo emang uangnya ada. Makna menurut aku sih selama lagi sama orang disayangi, nggak peduli makan di tempat murah sekalipun. Yang penting kebersamaannya...

      Delete
  3. jadi penasaran nih sama novelnya sendiri, kayaknya seru tuh cerita yang konfliknya muncul dari masa lalu. dan gue selalu setuju sama kalimat yang bilang kalo bahagia itu gak selalu harus meronggoh kocek yg banyak *cowok ga modal* :v

    kayaknya bener deh, cowok itu sekali-kali kudu baca novel romance biar bisa ngerti apa maunya si cewek...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya emang seru banget Bang, coba beli deh. Beli. Biar ntar pas punya pacar bisa curi-curi trik dari novel itu hahaha. Yaelah-___-

      Nah itu paham.

      Delete
  4. Saya sudah baca novelnya. Keren. Dan Dwi ngereviewnya juga keren. Detail sekali. Dan saya, suka tokoh Raka nya.:D

    Yang menarik, kisah ini mengingatkan saya akan masa lalu. Ah, sudahlah. Malah curhat ntar.

    Keren deh pokoknya, Dwi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaahhh makasih Kak Lin^^ iya seneng banget aku juga sama tokoh Raka. Ah, pria idaman banget memang.

      Haha aku jadi kepo Kak Lin

      Delete
  5. Gue kalau baca buku romance suka susah mikir, bahasanya berat-berat, padahal gue demen film korea, tapi tetep aja gimana gitu kalau yang terlalu romantis.

    Kalau di lihat dari sinopsisnya, ide ceritanya sih kayanya sama aja kaya sinetron atau drama korea. Tapi seperti yang situ bilang yang ngebedain itu gaya bahasa dan cara si penulis menceritakan ceritanya.

    Kalau cuman sinopsis, susah di tebak gimana cara si penulis ini bercerita, harus baca buku lengkapnya nih, nunggu giveaway dulu ahh hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah serius? Padahal romance itu ringan banget bahasanya. Iyap bener, makanya beli aja. Ya giveaway juga boleh lah haha aku juga dari giveaway kok

      Delete
  6. Aku kurang suka baca novel romance kayak gitu. Bukannya gmn2, sering nggak ngerti. Paling males kalo harus ngulang bacanya. Makanya, palingan baca sinopsisnya aja, sama quote juga.

    Tapi, makasih lho, udah di-review (ini ceritanya jadi penulis & penerbitnya) haha, makin ngaco nih.

    Two tumbs deh, buat review-nya. Nulis review tapi nggak bikin jadi spoiler itu sulit. Kayaknya kamu bisa^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya ampun Bang itu kan bahasanya nggak ribet... Ya boleh lah daripada nggak baca sama sekali ya.

      Iya makasih makasih^^

      Delete
  7. jadi penasaran nih sama novelnya wi.__. masuk wishlist deh

    kalau soal masa lalu buruk, aku bisa terima wi. asal dia yang sekarang nggak kayak dia yang dulu, udah tobat gitu istilahnya. Dan tugas kita sebagai pasangannya adalah terus membimbing dia agar gak terjerumus lagi dan kembali mengulang hal buruk itu.
    "Pasangan yang baik adalah pasangan yang mampu mendekatkan kita pada Tuhan"
    CMIIW

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh Ji, di tokbuk juga ada kok.

      Iya bener banget, kita saling mengingatkan sama pasangan gitu. Ah, Fuji pacarannya syari'ah juga nih :D

      Delete
  8. Masa lalu buruk bukan jaminan masa depan buruk kan? Pak Habibie aja bilang "Masa lalu mu milikmu, masa lalu ku milikku, masa depan milik kita".

    Kalo genre novel, gue lebih suka ke romantic comedy. gak ada yang nanya sih. gitu

    Tulisan didalam kotak pink kurang jelas nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. That's right, setuju sekali~

      Iya komedi romance juga aku suka kok. Emang seru aja perpaduan genre yang pas gitu.

      Oh iya maaf, itu di-quotes soalnya.

      Delete
  9. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dwi, maaf, karena modem rusak dan aku sulit komen di postingan Senin Terakhir Bulan Desember, kolom komennya gak nongol mulu, aku komen di sini saja, ya. Gak apa? Moga gak didepak dari BE gegara modem rusak dan sering disconnect lalu error.
      Review-nya oke. Pakai bahasa yang beda dan gak spoiler. Bisa bikin yang baca kepo untuk baca juga novelnya, termasuk aku yang meski gak mikir genre novel favorit kayak apa (asal jangan horor saja!), tertarik buat memilikinya. Semoga kelak ada rezeki untuk beli buku baru atau dapat hadiah dari GA.
      Oh ya, soal cara penulisan noel, yah, setiap penulis punya kelebihan dan kekurangan. Ada yang oke dari segi dialog sampai pendeskripsian latar, ada yang cuma bisa salah satunya. Inti utamanya adalah cari referensi sebanyak mungkin untuk menguasainya. Dan aku juga lemah dari segi hal itu, hehe.'Tabik untuk Mbak Dian Mariani atas kerja kerasnya.

      Delete
    2. Oh iya Mbak nggak papa kok.

      Makasih Mbak, iya aamiin, semoga dapet rezeki buat bisa dapet novel ini ya.

      Bener banget! Aku juga lagi belajar buat memperdalam karakter dan dialog nih...

      Delete
  10. Kenapa komen ku hilang ya tadi? hehehe *bingung

    Dwiiiii, makasih yaaaa atas reviewnyaaaa, seneng banget bacanya:)
    Makasih juga atas masukannya, penting banget buat aku..

    Nanti disampein deh salamnya buat Raka *wink :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuih dikomentarin penulisnya langsung hihi... Iya sama-sama Mbak, maaf ya mungkin aku juga ada kekurangan dari cara review-nya. Tapi semoga masukannya bermanfaat:)

      Makasih juga buat giveaway-nyaaaa seneng banget rasanya kayak deket sama Raka^^

      Delete
  11. kamu tu keliatan dari raut muka dan tampilan blog kalau orangnya melankolis dan suka hall hal yang berbau romantis. bener nggak sih? atau aku yang terlalu sok tau?? hehehe..tapi emang nih buku cucok banget buat kamu..aku juga tertarik, tapi buat sekarang aku lagi nggak baca yang cinta cintaan cc..hehehehe..

    good review, then. I'm looking forward to the next review!:)

    ReplyDelete
  12. Bagus Ka Dwi nge-reviewnya. Novel ini pun juga nggak kalah keren. Diliat dari reviewnya aja udah cakep. Tapi aku sama ama KaMeyk sih, aku masih belom begitu tertarik ama novel romance.

    Entah kenapa pas ngeliat review-review kayak gini, semangat buat nulis dan ngelanjutin naskah yang terabaikan mencuat lagi. Yah, tapi itu biasanya cuma sesaat, habis itu, ditinggal lagi.

    ReplyDelete
  13. Bagus two tumbs up, I already read that novel its so happy ending, baca lagi di bagian2 yang dramatis, untung luisa bukan tipe cewek yang sangar maksud ku suka bicara kasar ketika ribut besar dengan hans dan raka, mungkin seperti bayangin orang bicara dgn nada murka apalagi waktu di rumahnya luisa, ak bayangin her house is so big so even when they fight with high tone, raising their voice, her parents barely can hear them fighting, tapi ak msh meraba apakah luisa berbicara dengan suara tinggi atau setengah berbisik d tengah keramaian tempat makan pinggir jalan seperti itu, tp sepertinya free dari tukang ngamen ya mbak dian hehehe but over all its addict me to read it more than twice in a day (bela2 in terus baca smp jam 3 pagi karena alur ceritanya temponya makin seru jd penasaran haha) good mbak dian di tunggu lg karya selanjutnya, for dwi your review is so nearly represent the novel, nice review then, ciao guys...

    ReplyDelete

Tell me what do you want to tell :)