Deru mesin penggiling kopi bergema. Pria itu sibuk menyiapkan cangkir kopi untuk pesanan baru. Penampilannya khas seorang barista. Rambut klimis, mengenakan kemeja lengan panjang dengan kancing di kerahnya ditautkan. Ditambah celemek sebatas pinggang berwarna putih tulang.
Ketika cairan kopi hitam pekat itu sudah terisi satu pertiganya, pria itu langsung mematikan saluran air dan menarik cangkir. Dia mengambil gelas besar berbahan stainless dan mengisinya dengan krim susu. Gelas itu lalu ditaruh di saluran pemanas. Butuh waktu beberapa detik hingga krim susunya benar-benar panas. Tangan kirinya mengambil cangkir berisi kopi hitam pekat. Sebelum menuangkan krim susu, pria itu menoleh pada pelanggan yang memesan.
Suara
jeritan orang-orang di ruangan melengking ke berbagai sudut. Beberapa perempuan
sibuk berlarian keluar sambil menenteng high
heels dan membawa berkas-berkas penting. Sebagiannya bahkan ada yang
membawa laptop. Api masih berkobar di sudut ruangan dan mulai merambat ke loker
kecil berisi folder-folder dan perlengkapan alat tulis kantor. Beberapa pegawai
pria mulai memegang APAR dan mengarahkannya ke kobaran api. Asap putih bercampur
asap hitam mulai mengepul di ruang divisi keuangan.
Hujan itu… sepertiganya hanyalah air yang
jatuh, sedangkan duapertiganya adalah kenangan yang bertumbuh.
Hujan itu… seperlimanya hanyalah dingin
cuaca, sedangkan empatperlimanya adalah kerinduan untuk bisa bersama.
(Menghitung
Hujan by @zenitsia)
![]() |
| www.igre123.com |
Dio
Gue
berjalan menyusuri bangsal rumah sakit. Wangi obat berpadu jeritan tangis
pasien membuat bulu kuduk merinding. Koridor belok. Suasana mendadak hening.
Mata gue menjalar memandangi satu per satu nomor kamar yang sudah ditunjukkan
petugas di resepsionis. Ritme degup jantung gue mengencang ketika langkah kaki
mulai mendekati nomor kamar yang mau gue tuju. 153, 154, 155, 156, 157, dan
berhenti. Gue berhenti di depan kamar bernomor 157. Mata gue mendapati sandal
yang tak asing lagi. Sandal rumah bergambar beruang warna putih favorit Keli.
![]() |
| Source: http://totallytaylor-gifs.tumblr.com |
Desember 2010
“Sayang.”
Ergi tiba-tiba mendekapku dari samping. Ia menyisipkan rambut coklat sebahuku
ke belakang telinga.
Aku
menatapnya hambar. Entah ke mana perasaan itu. Perasaan yang menguatkanku
bertahan selama setahun dengannya. Aku sendiri tidak tau sejak kapan rasa ini
berubah. Yang jelas, belakangan ini, Ergi tak lagi bermakna di mataku.
“Aku sayang sama kamu.” Itu kalimat yang gue denger dari Nadin, tepat
seminggu setelah gue nembak dia. Gue diem sambil tatap dia bingung. Dia balik tatap
gue sambil menyisipkan rambut panjangnya ke belakang telinga.
Gue mencondongkan tubuh,
mendekati wajahnya, bangkit dari duduk sedikit, lalu mendaratkan bibir di
keningnya. “Makasih udah sayang sama aku.”
Nadin nggak bisa jawab. Dia hanya menganggukkan kepalanya sambil
tersenyum. Matanya menyipit.
***
“Benci! Benci! Benci!” aku membanting ponsel ke lantai.
Tubuhnya hancur menjadi 3 buah kepingan tak berdaya. Casing penutup, baterai, dan sebagian tubuh lainnya yang masih
tersisa meluncur ke berbagai sudut. Aku terdiam, membiarkan butir air mata
membasahi pipi. Aku tahu mataku sudah bengkak. Aku tahu hidungku sudah merah. Aku
tahu, aku tahu!
“Huh,” gadis itu mengembuskan napas panjang. Ia duduk
berselonjor kaki di atas rumput Jepang yang hijau terbentang luas.
Sebuah taman dipenuhi oleh orang-orang berlalu-lalang. Jalan
aspal—yang tengahnya sengaja dipasang batu-batu lonjong halus—dengan lebar
sekitar dua meter mengelilingi taman. Jalan itu dikhususkan untuk orang-orang
yang ingin jogging. Di tengah taman,
ada danau buatan cukup luas dengan air mancur besar di tengahnya. Seratus meter
di sudut kanan dari gerbang taman, ada tempat bermain yang dipenuhi anak-anak
beragam umur.
Aku duduk di
bangku kayu. Udara musim panas pagi ini terasa sedikit sejuk. Hangat sinar
mentari pagi menyorotku, meresapi pori-pori kulit. Mataku melihat sesuatu
berwarna hijau terhampar luas yang di atasnya terhampar pula warna biru muda
cerah. Mungkin itu yang namanya langit. Mataku juga menangkap setitik warna
kuning di antara hamparan langit. Aku hanya mampu menangkap warnanya, bukan
bentuknya.
Part sebelumnya, di sini
***
Setahun sudah Corona pergi dari hidup gue.
Tapi, bayangan dia sama sekali nggak bisa pergi. Semua hal di kota ini
mengingatkan gue sama dia. Hal kecil yang gue lakukan pun mengingatkan ke dia.
Gue bener-bener nyesel udah berlaku jadi laki-laki bodoh. Tapi, kebodohan yang
paling bikin gue nyesel sampai saat ini adalah membiarkan dia pergi begitu saja
tanpa bisa ngomong sepatah kata pun.












