“Aaaaakkkk! Aaaakkkk!”
Suasana tempat parkir Gramedia Merdeka Bandung mendadak riuh-rendah oleh tepuk tangan dan lengkingan-lengkingan suara—yang kebanyakan—perempuan. Kami sudah berdiri dengan rapi sesuai antrean sejak…, aku sih 2 jam setengah lalu. Entah orang lain. MC masih sibuk berceloteh di panggung kecil. Kami, para antrean, sudah megap-megap, panas dan kelelahan karena berdiri cukup lama. Beruntungnya aku datang tidak seorang diri. Renny, yang juga sudah sangat menanti hari itu, menemaniku mengobrol saat kami masih menunggu. Kami juga sempat selfie beberapa pose. Dua lembar roti cokelat sudah habis. Air mineral satu gelas sudah habis kami teguk. Tapi, pria itu belum datang juga. Pria yang sudah kami nantikan sejak 10 hari lalu. Pria yang secara tidak sadar, bisa menginspirasiku dalam segala hal.



