Hai! Malam minggu, pada ke mana, nih? Malam minggu udah nggak zaman nge-date sama pacar. Sekarang udah zamannya ngeblog! *efek lagi LDR-an. *biarin ah.
Beberapa waktu lalu, aku lagi iseng-iseng buka Tokopedia untuk beli novel. Di Tokped, aku udah punya satu toko favorit nih buat beli buku. Nggak tau kenapa, beli buku di situ memuaskan banget. If you want to know, just click link here. Ini bukan sengaja aku promo sih ya, cuma mau share kalo ini olshop beneran memuaskan hehe. Nah, di olshop itu, lucky banget deh. Pas lagi cari-cari, di timeline Tokped muncul iklan buku Dear Nathan. Aku bilang lah sama adekku, eh dia excited banget karena katanya seru (dia duluan baca di Wattpad). Ya udah, dengan harga 69,000 rupiah, aku beli novel ini bareng sama novel lain sebiji biar dapet ongkirnya lebih murah hehe. Lumayan ya, diskon 30,000 untuk buku yang setebel ini.
Novelnya kebilang cepet nyampe loh. Hanya 2 hari setelah transfer, bukunya langsung nyampe dengan selamat di rumah. Tapi aku nggak langsung baca karena waktu itu lagi fokus baca e-booknya Harpot 4. Udah dikit lagi kelar, jadi nggak mau ditanggung-tanggung.
Dan setelah selesai Harpot 4, okay, next to Dear Nathan.
Beberapa waktu lalu, aku lagi iseng-iseng buka Tokopedia untuk beli novel. Di Tokped, aku udah punya satu toko favorit nih buat beli buku. Nggak tau kenapa, beli buku di situ memuaskan banget. If you want to know, just click link here. Ini bukan sengaja aku promo sih ya, cuma mau share kalo ini olshop beneran memuaskan hehe. Nah, di olshop itu, lucky banget deh. Pas lagi cari-cari, di timeline Tokped muncul iklan buku Dear Nathan. Aku bilang lah sama adekku, eh dia excited banget karena katanya seru (dia duluan baca di Wattpad). Ya udah, dengan harga 69,000 rupiah, aku beli novel ini bareng sama novel lain sebiji biar dapet ongkirnya lebih murah hehe. Lumayan ya, diskon 30,000 untuk buku yang setebel ini.
Novelnya kebilang cepet nyampe loh. Hanya 2 hari setelah transfer, bukunya langsung nyampe dengan selamat di rumah. Tapi aku nggak langsung baca karena waktu itu lagi fokus baca e-booknya Harpot 4. Udah dikit lagi kelar, jadi nggak mau ditanggung-tanggung.
Dan setelah selesai Harpot 4, okay, next to Dear Nathan.
“Boleh duduk sini?”
Setahun hilang kabar, setahun
berusaha mati-matian melupakan, kini semuanya pudar. Benteng yang sudah
kubangun setinggi mungkin tiba-tiba roboh tanpa sisa. Suara itu menghancurkan
semuanya. Suara bariton yang sangat aku rindukan. Suara yang masih bisa
kudengar meski earphone menutupi
lubang telinga.
Aku gegas melepas earphone dan menatap sosok
jangkung-berotot itu di hadapan. Tubuhnya masih saja menjulang, kontras dengan
tubuhku yang tinggi normal dan kurus.
Pembaca tersayang,
Mari berjalan di sepanjang bentaran Sungai Thames, dalam rintik gerimis dan gemilang cahaya London Eye.
Windry Ramadhina, penulis novel ‘Orange’, ‘Memori’, dan ‘Montase’, membawa kita menemani seorang penulis bernama Gilang mengejar cinta Ning hingga ke Fitzrovia. Namun, ternyata tak semudah itu menyatakan cinta. Kota London malah mengarahkannya kepada seorang gadis misterius berambut ikal. Dia selalu muncul ketika hujan turun dan menghilang begitu hujan reda. Sementara itu, cinta yang dikejarnya belum juga ditemuinya. Apakah perjalanannya kali ini sia-sia belaka?
Windry Ramadhina, penulis novel ‘Orange’, ‘Memori’, dan ‘Montase’, membawa kita menemani seorang penulis bernama Gilang mengejar cinta Ning hingga ke Fitzrovia. Namun, ternyata tak semudah itu menyatakan cinta. Kota London malah mengarahkannya kepada seorang gadis misterius berambut ikal. Dia selalu muncul ketika hujan turun dan menghilang begitu hujan reda. Sementara itu, cinta yang dikejarnya belum juga ditemuinya. Apakah perjalanannya kali ini sia-sia belaka?
Setiap tempat punya cerita.
Dalam dingin kabut Kota London, ada hangat cinta menyelusup.
Dalam dingin kabut Kota London, ada hangat cinta menyelusup.
Enjoy the journey.
Di suatu sore di Hari Minggu, aku sedang menikmati blurb dari beberapa novel yang memiliki rating cukup bagus di Goodreads. Atau tidak, aku memilih novel penulis favorit dan penerbit favorit untuk kubaca blurb-nya. Tidak lupa, aku membaca review dari sebagian pembaca untuk membuat keputusan akan membelinya atau tidak.
“Jika selama seminggu tidak ada satu pun buku yang Anda baca, dan satu tulisan pun yang Anda tulis, lupakan cita-cita Anda.” –Stephen King
Semua berawal dari quote yang
dibuat sama beliau. Aku jadi kepikiran, belakangan ini aku emang lagi ditugasin
buat fokus sama BAB demi BAB tugas akhir. Sejenak aku lupain bikin cerpen, ikut
lomba cerpen, dan revisi naskah demi deadline
lulus secepatnya. Lantas, kalo aku nulis tapi nulisnya laporan tugas akhir,
masuk kategori “tulisan yang Anda tulis” nggak ya? Ah, semoga aja iya. Aku
masih punya cita-cita mau jadi penulis hebat, kok…

