“Sayang.”
Ergi tiba-tiba mendekapku dari samping. Ia menyisipkan rambut coklat sebahuku
ke belakang telinga.
Aku
menatapnya hambar. Entah ke mana perasaan itu. Perasaan yang menguatkanku
bertahan selama setahun dengannya. Aku sendiri tidak tau sejak kapan rasa ini
berubah. Yang jelas, belakangan ini, Ergi tak lagi bermakna di mataku.