Hujan itu… sepertiganya hanyalah air yang
jatuh, sedangkan duapertiganya adalah kenangan yang bertumbuh.
Hujan itu… seperlimanya hanyalah dingin
cuaca, sedangkan empatperlimanya adalah kerinduan untuk bisa bersama.
(Menghitung
Hujan by @zenitsia)
“Jika selama seminggu tidak ada satu pun buku yang Anda baca, dan satu tulisan pun yang Anda tulis, lupakan cita-cita Anda.” –Stephen King
Semua berawal dari quote yang
dibuat sama beliau. Aku jadi kepikiran, belakangan ini aku emang lagi ditugasin
buat fokus sama BAB demi BAB tugas akhir. Sejenak aku lupain bikin cerpen, ikut
lomba cerpen, dan revisi naskah demi deadline
lulus secepatnya. Lantas, kalo aku nulis tapi nulisnya laporan tugas akhir,
masuk kategori “tulisan yang Anda tulis” nggak ya? Ah, semoga aja iya. Aku
masih punya cita-cita mau jadi penulis hebat, kok…
"Aduh, apaan sih kok macet banget masih pagi juga." aku ngedumel dalam hati karena takut telat ke kampus. Bukan, bukan karena ada kelas. Udah jadi mahasiswa tingkat akhir nggak ada mata kuliah lagi kok selain nyusun LTA (Laporan Tugas Akhir). Tapi aku takut dosen yang bersangkutan keburu kabur. Kan bahaya.
Taunya aku baru inget kalo hari itu adalah hari pertama wisuda Unpad gelombang III, di bulan Mei. Tiba-tiba aku ngerasa hopeless. Baiklah, aku mau cerita sedikit tentang kesulitan menjelang penyusunan LTA.
Mungkin dari judulnya pembaca ngira kalo aku penggemar Korea. Tapi kenyataannya, panggilan Oppa ini bukan untuk cowok-cowok boyband atau aktor Korea. Itu panggilan buat Karei. Jadi gini awalnya...
Waktu itu aku sama Karei lagi ngomongin apa ya, lupa. Tiba-tiba aku panggil dia Opa. Opa ya, not Oppa. Terus dia bilang, "Nggak papa dipanggil Oppa. Bahasa Korea-nya Oppa kan Kakak."
![]() |
| www.igre123.com |
Dio
Gue
berjalan menyusuri bangsal rumah sakit. Wangi obat berpadu jeritan tangis
pasien membuat bulu kuduk merinding. Koridor belok. Suasana mendadak hening.
Mata gue menjalar memandangi satu per satu nomor kamar yang sudah ditunjukkan
petugas di resepsionis. Ritme degup jantung gue mengencang ketika langkah kaki
mulai mendekati nomor kamar yang mau gue tuju. 153, 154, 155, 156, 157, dan
berhenti. Gue berhenti di depan kamar bernomor 157. Mata gue mendapati sandal
yang tak asing lagi. Sandal rumah bergambar beruang warna putih favorit Keli.






