Akhirnyaaaa, yeah, akhirnya! Aku selesai juga nonton drama Reply 1988 selama beberapa hari ini. 20 episode rasanya nggak cukup untuk menceritakan kisah keluarga, persahabatan dan cinta dalam drama ini. Selesai nonton ini rasanya kepengin teriak, kepengin menghela napas, kepengin nangis, tapi di sisi lain juga kepengin senyum-senyum dan bernapas lega.
Geurae, mari kita mengubek-ubek drama ini sampai tuntas, meskipun entah akan menghabiskan berapa ribu kata. Maaf ya, aku kalo udah tergila-gila sama sesuatu, nggak bisa ditahan-tahan.
Oh ya btw, kalo yang nggak suka spoiler mending berhenti sampai di sini. Kenapa?
Aku gemes pengin bahas banyak tentang drama ini. Jadi mungkin spoiler akan bertebaran di sini.
Oh ya btw, kalo yang nggak suka spoiler mending berhenti sampai di sini. Kenapa?
Aku gemes pengin bahas banyak tentang drama ini. Jadi mungkin spoiler akan bertebaran di sini.
***
"Adek udah mau sekolah?"
"Masuk playgroup dulu ya?"
"Ke sekolah nanti mau bawa bekel apa?"
"Kita nanti belajar baca, belajar hitung, sambil belajar main musik juga mau?"
Di akhir bulan lalu, aku sama One Heart baru aja ketemuan buat ngejalanin suatu ritual yang dimulai sejak tahun kemarin. Namanya ritual tukar kado. Jadi, tahun kemarin kita ngadain acara ini tepat di tanggal 30 Desember kalau nggak salah, soalnya tanggal 31-nya aku mau main. Di acara kemarin, tadinya kita mau karoke, terus makan sambil tukeran kado. Semua rencana berjalan mulus sampai akhirnya tepat di hari H, aku dapet telepon kalo adekku sakit dan masuk RS. Mama minta aku pulang saat itu juga. Well, I have no choice. Jadi aku nurut untuk langsung pulang ke Garut.
Ngomongin soal pahlawan, tentunya kita punya pahlawan masing-masing
dalam hidup kita. Buatku sendiri, Mama dan Bapak adalah pahlawan terbaik
sepanjang masa. Posisi mereka di tingkat pertama nggak akan pernah terganti. Tapi,
kamu pernah kepikiran nggak sih selain mereka berdua—dan keluargamu
tentunya—ada banyak pahlawan yang berkontribusi dalam hidup kita? Misalnya aja
tukang jahit yang menjahitkan baju untuk wisuda kita. Atau guru TK yang
mengajarkan kita cara bersosialisasi dengan orang asing selain keluarga. Atau
juga mbak-mbak teller bank yang
membantu kita bertransaksi? Sebenernya, banyak banget pahlawan yang secara
sengaja atau nggak, berkontribusi untuk membantu kita. Dan harusnya sih kita
sadar akan itu.
Ntah kenapa tiba-tiba kepikiran ide buat ceritain sebuah kisah tentang
teman kecil. Ini bukan patah hati, sih. Tapi nggak tau kenapa pengin aja
masukin cerita ini ke rubrik Dongeng Patah Hati. Jadi ceritanya gini…
"Rumah ini terlalu nyaman untuk ditinggalkan. Keluarga ini terlalu indah untuk sekadar dilepaskan."
Tiga tahun sudah rumah ini berdiri begitu kokoh. Banyak anggota keluarga
yang keluar-masuk sesuka hati. Salah satunya aku sendiri. Memang beberapa bulan
belakangan ini, aku sedang sibuk merantau. Merantau untuk diriku sendiri. Merantau
untuk memperjuangan sesuatu yang memang harus kuperjuangnkan. Dalam hidup, kita
pasti akan dipertemukan dengan dua pilihan sulit. Dan tentu saja kita harus
memilih salah satunya sekaligus mengorbankan yang lainnya. Dan aku sudah
memilih.
Alhamdulillah...
Aku, Wawak, Aida dan Dae saling berpelukan haru ketika sekretaris prodi selesai membacakan hasil sidang yudisium. Ruangan kaprodi seketika penuh sesak oleh ucapan syukur dan tangis bahagia dari 34 mahasiswa yang baru aja menyelesaikan sidang ujian Laporan Tugas Akhir 5 Agustus kemarin.
Ya Allah, terima kasih. Aku berujar dalam hati.
***
Udah jadi tradisi kalo di bulan ramadhan, pasti ada yang namanya buka bareng. Mulai dari temen SD, temen SMP, temen SMA, temen kuliah, sampe temen kerja. Pas udah masuk bulan ramadhan, aku udah ada invitation di grup Line dari temen SMP. Ya, apalagi kalo bukan reunian satu angkatan sambil bukber. Acaranya sih outdoor di sekolah, terus ada hiburan, bazar, firework, dan macem-macem. Sayang, aku nggak bisa ikut karena ada urusan yang belum selesai.
Alhamdulillah, puasa udah masuk hari kesepuluh kedua. Bulan Juli juga
udah hari ketiga. Nggak kerasa, ya. Waktu jalannya cepet banget. Banyak momen
indah yang aku lewatin gitu aja untuk dibagiin di blog. Nggak dilewatin sih
sebenernya, cuma di-pending. Soalnya
belum sempet aku post karena ya… meskipun kuota ada, tapi waktunya yang nggak
ada. So now, here I am. Aku mau
ceritain beberapa hal yang belakangan ini aku alami.
Beberapa hari lalu, aku dapet chat Line yang isinya capture-an makanan dari temenku, Dae. Kita ini pecinta kuliner banget ya, jadi kalo ada info makanan gitu pasti langsung share. Dia ngajakin buat ke tempat makan yang makanannya dia share itu. Setelah dipertimbangkan, aku setuju dan kita mulai tentuin hari. Tapi, berhubung orang di grup kami nggak cuma aku dan Dae aja, tapi juga ada beberapa temen yang lain, akhirnya aku memutuskan buat ngajak yang lain. Ya mau ikut atau enggak gimana ntar. Yang penting ajakin aja dulu. Lagian aku juga tau mereka pasti sama setresnya karena bikin Laporan Tugas Akhir. Refreshing bentar nggak papa lah :)
"Aduh, apaan sih kok macet banget masih pagi juga." aku ngedumel dalam hati karena takut telat ke kampus. Bukan, bukan karena ada kelas. Udah jadi mahasiswa tingkat akhir nggak ada mata kuliah lagi kok selain nyusun LTA (Laporan Tugas Akhir). Tapi aku takut dosen yang bersangkutan keburu kabur. Kan bahaya.
Taunya aku baru inget kalo hari itu adalah hari pertama wisuda Unpad gelombang III, di bulan Mei. Tiba-tiba aku ngerasa hopeless. Baiklah, aku mau cerita sedikit tentang kesulitan menjelang penyusunan LTA.





