Udah hari kedua puluh enam, rasanya udah gak perlu lagi deh ngucapin selamat tahun baru. Basi! *terkekeh-kekeh malu*
Iya, ya, aku ngapain aja selama 26 hari ini sampe baru bikin postingan pertama? Hmm, memang awal tahun ini dibuka sama banyak hal hektik deh rasanya. Banyaaak banget kejadian yang bikin riweuh teu puguh. (baca: rusuh nggak jelas). Dari mulai tragedi cacing kepanasan sampai kehilangan orang tersayang.
Well, postingan pertama ini mau aku buka sama curhatan-curhatan. Semoga sih ada hikmah yang bisa diambil dari curhatanku yang rada nggak penting juga buat di-publish, sebenernya. HAHAHA.
Well, postingan pertama ini mau aku buka sama curhatan-curhatan. Semoga sih ada hikmah yang bisa diambil dari curhatanku yang rada nggak penting juga buat di-publish, sebenernya. HAHAHA.
Ada satu hal yang bikin aku bersyukur banget di tahun ini.
I'm officially an employee.
Kenapa? Ada yang salah jadi seorang karyawan? Bekerja untuk orang lain, disuruh-suruh orang lain, nurut sama perintah orang lain?
No. Justru aku berpikir,
Untuk bisa ada di atas, kita memang harus memulainya dari bawah, kan?
***
Awal Bulan Maret. Aku udah
menghabiskan waktu 4 bulan di tempat kerja. Dibilang seneng ya alhamdulillah
seneng. Senior di bagian akuntingnya juga baik, mau ngajarin aku, meskipun aku
tau sih kayaknya mereka sebenernya udah kepengin ngambek dan kesel sama sifat
aku yang banyak lupanya. Tapi mudah-mudahan mereka ikhlas dan dapet pahala yang
berlipat ganda. Aamiin. Temen-temen di departemen lain juga baik. Entah mungkin
karena aku tertutup, jarang ngobrol sama mereka, jadi sekalinya ngobrol pun ya
biasa-biasa aja. Tapi ya semoga emang bener-bener baik ya…
Sore ini di rumahku hujan. Aku terlarut dalam layar laptop berjam-jam ditemani kopi instan yang kubeli dari supermarket. Aku jatuh cinta pada Venice, begitu kataku.
Dan, sudah seminggu aku menggarap cerita pendek berlatar kota itu. Nyatanya, membuat cerita--meskipun itu fiksi--berlatar luar negeri itu sangat sulit, ya. Aku tidak bias sembarangan mengarang bagaimana suasana di sana. Aku butuh riset banyak-banyak. Aku mengandalkan Google, mengandalkan Wikipedia--berbahasa Perancis, mengandalkan Google Earth--lengkap dengan tempat-tempatnya. Dan aku masih belum puas. Rasanya aku ingin terbang ke sana untuk bisa merasakan suasananya secara langsung.
Jadi, untuk kalian pembaca setia--semoga memang ada--yang menunggu postinganku di blog, tunggu saja. Aku masih di sini, mencari ide--dan cara--untuk bisa kembali menulis blog. Aku sempat kehilangan ide untuk menulis fiksi. Aku sempat kehilangan semangat untuk menulis lagi. Tanganku sempat lumpuh sementara untuk menulis. Selama berbulan-bulan. Aku kehilangan nyawa pada ceritaku.
Tapi aku tahu, aku dilahirkan untuk menulis, aku yakin itu. Tanganku diciptakan untuk bersahabat dengan keyboard laptop. Otakku dibuat untuk menemukan ide-ide cerita yang berbeda. Dan, jiwaku diciptakan untuk menjadi penulis. Meskipun aku kini sedang menjadi seorang karyawan, tapi aku yakin akan mimpi itu. Aku yakin akan takdir itu. Aku yakin bahwa duniaku memang di dunia tulis-menulis. Suatu saat, aku akan menghabiskan waktuku penuh untuk passion-ku, menulis.
![]() |
| Passion |
Untuk pembaca setia--yang sekali lagi, semoga memang ada--aku tidak menghilang. Aku hanya rehat sejenak. Aku butuh menenangkan pikiran, mencari ide-ide baru, dan kembali dengan jiwa yang lebih segar.
I will be back, soon!
With love,
Alhamdulillah...
Aku, Wawak, Aida dan Dae saling berpelukan haru ketika sekretaris prodi selesai membacakan hasil sidang yudisium. Ruangan kaprodi seketika penuh sesak oleh ucapan syukur dan tangis bahagia dari 34 mahasiswa yang baru aja menyelesaikan sidang ujian Laporan Tugas Akhir 5 Agustus kemarin.
Ya Allah, terima kasih. Aku berujar dalam hati.
***
Sebagai seseorang yang suka nulis, dapet momen-momen yang pas buat nulis
ternyata bisa bikin mood naik loh, guys. Tiap orang pasti punya momen
tersendiri yang menurut mereka enak buat dijadiin nulis. Momen ini bisa dari
segi waktu, dari segi suasana, atau segi apa pun. Nah, nggak cuma
penulis-penulis hebat aja yang punya momen pas buat nulis. Aku juga punya dong.
Dan, ini beberapa momen favoritku untuk nulis.
Semua
berawal dari info seminar yang disebarin Oyos di grup “One Heart”. Iya nama
grup itu semacam jargon iklan motor. Tapi, aku dan temen-temen juga sepakat
namain itu alasannya karena kita selalu sehati dan biar terus sehati. Oke,
lanjut ke cerita. Oyos nyebarin info seminar dari Djarum Foundation bertema "Speak with Confidence" tentang Public Speaking gitu.
Terus aku baca ke bawah lagi, OMEGE. Guest
star-nya Yovie & Nuno! Ternyata seminar ini gratis buat beberapa
universitas, salah satunya Unpad. Ah, awalnya sih aku emang niat mau nonton guest star-nya aja, apalagi Dikta
hahaha.
"Aduh, apaan sih kok macet banget masih pagi juga." aku ngedumel dalam hati karena takut telat ke kampus. Bukan, bukan karena ada kelas. Udah jadi mahasiswa tingkat akhir nggak ada mata kuliah lagi kok selain nyusun LTA (Laporan Tugas Akhir). Tapi aku takut dosen yang bersangkutan keburu kabur. Kan bahaya.
Taunya aku baru inget kalo hari itu adalah hari pertama wisuda Unpad gelombang III, di bulan Mei. Tiba-tiba aku ngerasa hopeless. Baiklah, aku mau cerita sedikit tentang kesulitan menjelang penyusunan LTA.
Udah akhir bulan lagi aja. Bulan Maret selesai. Besok udah April. Hmm, bulan kemarin sih aku lagi sibuk-sibuknya PKL di BNI. Boro-boro sempet nengok blog, yang ada nyampe kosan pengen langsung tepar karena lembur terus tiap akhir bulan. But I have no choice. Beruntungnya, pembimbing PKL-nya baik banget, lingkungan PKL-nya juga mendukung. Udah gitu, orang-orang di sekitarnya ramah-ramah bikin betah. Alhamdulillah PKL udah selesai awal Maret kemarin. Udah ada sedikit waktu luang buat kembali nengok blog yang sempet diabaikan. "Diabaikan" loh ya, bukan "Terabaikan". Aku sengaja menelantarkan blog karena aku sempet ngambek. Sempet kesel sama dunia tulis-menulis. Sempet... patah hati. Alasannya udah aku tulis di sini. Tapi untung sekarang udah sembuh dan mulai membaik.
“Aaaaakkkk! Aaaakkkk!”
Suasana tempat parkir Gramedia Merdeka Bandung mendadak riuh-rendah oleh tepuk tangan dan lengkingan-lengkingan suara—yang kebanyakan—perempuan. Kami sudah berdiri dengan rapi sesuai antrean sejak…, aku sih 2 jam setengah lalu. Entah orang lain. MC masih sibuk berceloteh di panggung kecil. Kami, para antrean, sudah megap-megap, panas dan kelelahan karena berdiri cukup lama. Beruntungnya aku datang tidak seorang diri. Renny, yang juga sudah sangat menanti hari itu, menemaniku mengobrol saat kami masih menunggu. Kami juga sempat selfie beberapa pose. Dua lembar roti cokelat sudah habis. Air mineral satu gelas sudah habis kami teguk. Tapi, pria itu belum datang juga. Pria yang sudah kami nantikan sejak 10 hari lalu. Pria yang secara tidak sadar, bisa menginspirasiku dalam segala hal.
Siapa sih yang nggak bangga ketika proyek novel yang sudah digarap bisa diterbitkan dan beredar di seluruh toko buku? Siapa yang nggak bangga ketika penerbit mulai ngajak penulis untuk talkshow dan membahas novelnya? Siapa juga yang nggak bangga ketika banyak orang ngantre buat bisa ngobrol langsung dan minta tanda tangan di novel sendiri? Ya, semua itu menyenangkan. Tapi, satu hal yang lebih menyenangkan dari itu semua. Akhirnya, perjuangan seorang penulis nggak sia-sia. Perjuangan untuk bisa melahirkan sebuah karya.








